Rabu, Desember 15, 2010

Sejarah Ketentaraan dalam Dunia Islam

Organisasi dan taktik militer menjadi sebuah kekuatan. Pemerintahan pada masa Abbasiyah, memiliki kekuatan itu sebagai penopang eksistensi mereka. Tentunya, selain pencapaian ilmu pengetahuan di berbagai bidang yang melahirkan decak kagum, organisasi dan taktik militer yang saat itu dikembangkan diakui efektivitasnya oleh pihak lain.

Buku Art of War, yang ditulis seorang sarjana bernama Charles Oman, mengungkapkan, dua hal yang membuat orang-orang Islam yang dipanggil dengan sebutan Saracen pada abad ke-10 menjadi musuh berbahaya, adalah jumlah dan kekuatan mesin perang luar biasa. Pengakuan atas kekuatan militer itu, terungkap pula dalam sebuah naskah tentang taktik militer yang dikaitkan pada Raja Leo VI. Ia berkuasa pada 886 hingga 912 Masehi. Menurut dia, dari semua bangsa atau berber, orang-orang Islam adalah yang paling baik dan paling hebat dalam taktik militernya.

Pada masa pemerintahan Dinasti Abbasiyah, militer dibangun dengan mengandalkan pasukan Persia, bukan Arab. Bahkan, pasukan pengawal istana yang menjadi mesin militer terkuat kebanyakan diambil dari pasukan Khurasan. Saat itu, pasukan Arab dibagi menjadi dua divisi, yaitu Arab Utara yang berasal dari Mudhar.Divisi lainnya adalah Arab Selatan yang berasal dari Yaman. Khalifah al Mu'tashim, di suatu hari membentuk divisi baru. Orang-orang Turki direkrut untuk mengisi divisi tersebut. Mereka berasal dari Farqanah dan sejumlah wilayah Asia Tengah lainnya. Meski pada akhirnya, divisi baru ini menjadi batu sandungan.

Seiring bergulirnya waktu, terutama setelah Khalifah Al-Muntashir, yang berkuasa antara 861 hingga 862 Masehi, mangkat, orang-orang Turki yang tergabung dalam divisi baru itu mulai memainkan peran mereka sebagai bagian dari pasukan pemerintah yang berpengaruh besar dalam urusan kenegaraan.Dinasti Abbasiyah, mengadopsi sistem yang dikembangkan pihak lain dalam mengembangkan organisasi militernya, terutama saat membentuk pola pasukan. Mereka mengambilnya dari Romawi dan Bizantium, yang menempatkan 10 prajurit di bawah kendali satu orang yang disebut a'rif. Sama seperti decurion dalam militer Romawi.

Sedangkan, 50 prajurit di bawah komando seorang khalifah, 100 prajurit di bawah komando seorang qa'id, dan 10 ribu pasukan yang terdiri atas 10 batalion di bawah komando seorang amir atau jenderal. Pasukan yang terdiri atas 100 orang membentuk sebuah skuadron dan beberapa skuadron membentuk sebuah unit.Tak hanya untuk pertahanan, Dinasti Abbasiyah memanfaatkan pasukannya untuk meredam berbagai pemberontakan yang terjadi di berbagai wilayah, seperti di Persia, Suriah, dan Asia Tengah. Selain itu pasukannya juga dikirim untuk berperang melawan kekuatan Bizantium.

Menurut Philip K Hitti dalam History of the Arabs, sistem organisasi militer kekhalifahan Arab, pada umumnya tak mempunyai pasukan reguler dalam jumlah besar. Bahkan, pasukan pengawal khalifah yang disebut haras mungkin merupakan satu-satunya pasukan tetap yang masing-masing mengepalai sekelompok pasukan.Terdapat pasukan bayaran dan sukarelawan serta beberapa pasukan yang berasal dari beragam suku dan distrik. Pasukan sukarelawan yang karib dengan sebutan mutathawwi'ah dibayar saat mereka sedang bertugas. Biasanya, pasukan ini beranggotakan orang-orang badui, petani, dan penduduk kota.

Pasukan tetap yang bertugas aktif, biasanya disebut sebagai murtaziqah. Mereka dibayar secara berkala oleh pemerintah. Sedangkan pasukan pengawal istana, memperoleh bayaran lebih tinggi dibandingkan pasukan lainnya. Mereka juga mengenakan seragam bagus dan dipersenjatai secara lengkap.Namun, pada masa awal tampuk pemerintahan Dinasti Abbasiyah, mereka telah memiliki pasukan reguler, yang terdiri atas pasukan infanteri atau harbiyah yang dipersenjatai dengan tombak, pedang, dan perisai. Juga, ada pasukan panah (ramiyah) dan kavaleri (fursan), yang bersenjatakan tombak panjang dan kapak.

Perlengkapan lainnya yang mereka kenakan adalah pelindung kepala dan dada. Terkait dengan tingkat gaji, ratarata gaji yang diterima pasukan infanteri sekitar 960 dirham per tahun.Mereka juga mendapatkan tambahan santunan rutin. Sedangkan, pasukan kavaleri mendapatkan gaji dua kali lipat dari gaji pasukan infanteri.

Pada masa Khalifah Al-Ma'mun, saat dinasti ini mencapai puncak kejayaan kekuasaannya, pasukan yang bermarkas di Baghdad, Irak, mencapai jumlah 125 ribu. Saat itu, pasukan infanteri hanya menangguk gaji sebesar 240 dirham per tahun. Namun, pasukan kavaleri tetap saja diberi gaji dua kali lipat dibandingkan mereka. Sejumlah terobosan Sejarawan Ibnu Khaldun dan AlThabari mengisahkan, saat tampuk kekuasaan di tangan Al-Mutawakil, pasukannya diajari membawa pedang di pinggang, layaknya gaya para pasukan Persia. Saat itu, orang-orang Arab telah terbiasa membawa pedang di punggungnya.

Sang khalifah, memerintahkan pasukan panah membawa pelontar, berpakaian antiapi, dan bertugas melontarkan bahan-bahan mudah terbakar ke area pasukan musuh. Para arsitek pembuat alat pelontar dan pendobrak ditugaskan untuk menemani pasukan di medan pertempuran.

Ada seorang arsitek terkenal bernama Ibn Shabir al-Manjaniqi yang hidup pada abad ke-11, pernah membuat sebuah karya tentang seni peperangan serta teknik peperangan yang diuraikannya secara sangat terperinci. Di sisi lain, Khalifah Harun alRasyid merupakan khalifah pertama memiliki ide pembuatan ambulans.Ambulans ini digunakan untuk merawat personel pasukan yang terluka saat bertempur di medan peperangan. Ambulans pada masa itu berbentuk gerobak yang ditarik oleh unta. Di dalam gerobak tersebut, terdapat berbagai macam jenis obat untuk mengobati luka-luka para pasukan perang.

Sumber pustaka:
http://www.republika.co.id//berita/ensiklopedia-islam/khazanah/10/06/11/119428-sejarah-ketentaraan-dalam-dunia-islam

Sumber gambar:
http://www.historyofjihad.org/mongolia.html

Senin, Maret 15, 2010

Mengintip Gerilya Mujahidin Thailand Selatan

Dalam perjuangan melawan militer Thailand, para pejuang Pattani menerapkan taktik gerilya. Salah satu panduannya adalah strategi gerilya yang pernah diterapkan di Indonesia.

Oleh Chairul Akhmad

Pergi ke Thailand —apalagi ke Pattani— bukanlah perjalanan mudah. Mumpung ada kesempatan saya tidak menyianyiakannya. Meski Ramadhan tak ada alasan untuk menunda. Pariwisata seorang muslim adalah berjihad fi sabilillah, itulah kalimat nabi saw yang memotivasi keberangkatan ke Thailand.

Terdapat beberapa elemen perjuangan rakyat Pattani yang melakukan perlawanan terhadap pemerintah Thailand. Diantaranya Pattani United Liberation Organisation (PULO), Gerakan Mujahidin Islam Pattani (GMIP), Gerakan Islam Pattani (GIP), Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNPP), dan Barisan Revolusi Nasional (BRN). BRN sendiri bertambah menjadi BRN Congress dan BRN Coordinate.

Meskipun semuanya menuntut kemerdekaan, tetapi masing-masing memiliki karakter dan identitas sendiri. Pernah ada upaya untuk menyatukan semua gerakan perlawanan ini dalam satu atap, dengan menggunakan istilah Bersatu, namun tak efektif.

Ketidakefektifan ini terjadi karena sejak awal didirikan, ideologi mereka berbeda. Akhirnya, mereka berjuang dengan cara masing-masing karena tidak mungkin disatukan dalam satu wadah.

Muhammad Abdur Rahman Abdus Samad, mantan Ketua Majelis Agama Islam Narathiwat yang juga tokoh masyarakat di Pattani, termasuk salah seorang ulama yang menyayangkan ketidakbersatuan gerakan-gerakan perjuangan ini. “Kalau semua unsur pejuang Pattani ini bersatu, bagus sekali. Perjuangan menjadi mudah, tidak terlalu berat. Tapi memang susah untuk bersatu dan menjadi satu ideologi,” ujarnya.

Pada tahun 2006, beberapa kelompok perlawanan menandatangani perjanjian nota rekonsiliasi Joint Peace and Development Plan for South Thailand (Perdamaian Bersama dan Rencana Pembangunan Thailand Selatan). Di antara mereka adalah PULO, BRN Congress, GMIP, dan Barisan Pembebasan Islam Pattani (BPIP). Namun, tidak menghasilkan hal-hal yang konkrit demi terciptanya perdamaian. Akhirnya, gerakan-gerakan perjuangan mengangkat senjata dan melakukan perlawanan. Hingga kini yang termasuk aktif melakukan serangan adalah BRN dan PULO, namun kedua kelompok tak pernah mau mengaku. Gerilya yang mereka terapkan dilakukan secara underground dan diam-diam.

Inilah yang membuat sebagian besar warga Pattani bingung. Ada serangan terhadap militer Thailand, namun tidak ada pihak yang bertanggung-jawab. Semua gerakan perjuangan tutup mulut. Kondisi ini tentu saja kian memperuncing keadaan, karena dengan demikian, militer Thailand dapat melakukan serangan-serangan agresif dan pembunuhan semaunya. Mumpung trennya begitu –tak ada pihak yang mengaku-, yang otomatis sasaran tudingan akan mengarah kepada kelompok-kelompok perlawanan. Ibaratnya, militer kerajaan dapat memancing di air keruh, di tengah ketidakpastian situasi yang mendera. Hal ini sebenarnya disayangkan oleh sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Islam di wilayah selatan, karena yang kerap menjadi korban adalah warga sipil tak berdosa.

Seorang pejabat pemerintah di Provinsi Yala yang enggan disebutkan namanya mengatakan, terdapat banyak kelompok perlawanan di selatan Thailand, namun tidak ada yang mengaku kala terjadi serangan. “Di sini beda dengan negara-negara lain, di mana pelaku penyerangan atau pemboman biasanya mengaku dan menyebutkan diri. Di sini tak ada yang mengaku, padahal jelas-jelas mereka yang melakukan serangan terhadap askar (tentara) kerajaan,” katanya.

Berdasarkan informasi yang beredar secara terbatas, yang termasuk getol beraksi adalah kelompok BRN. Mereka pula yang kerap merepotkan tentara kerajaan dengan aksi-aksi “siluman” dengan menyerang secara hit and run. Pasukan kerajaan sendiri bingung bukan kepalang. Mereka mengibaratkan diri melawan hantu yang tak tampak, namun terasa benar efek serangannya. Telah banyak korban dari pihak tentara akibat serangan bom maupun tembakan sniper (penembak jitu). Namun, pemerintah Thailand tak pernah memublikasikannya.

Taktik gerilya negeri seberang

Taktik gerilya para pejuang BRN terkenal cermat, penuh perhitungan, terorganisir rapi dan matang. Tentara Kerajaan Thailand jarang sekali berhasil menangkap para pelaku. Ketika melakukan serangan, para gerilyawan selalu memperhitungkan kapan patroli kerajaan lewat di suatu wilayah, lalu melepaskan tembakan atau melempar bom dan melarikan diri. Senjata kemudian diletakkan di suatu tempat yang telah ditentukan lantas diambil oleh pejuang lain untuk disembunyikan. Pelaku tembakan segera bersembunyi ke arah lain, kemudian muncul laskar berbeda berpakaian sipil mendatangi tempat serangan semula untuk mengelabui militer Thailand.

Ketika tentara mengejar pelaku serangan, yang mereka dapatkan adalah pejuang berpakaian sipil yang lain. Tentu saja militer kerajaan ini tidak mendapatkan apa-apa ketika melakukan pemeriksaan. Mereka juga tidak berhasil mengejar pejuang yang melakukan serangan karena telah menghilang. Tak heran jika sebenarnya tentara kerajaan menderita stress dan paranoid karena berperang dengan musuh yang tak tampak.

Yang lebih mengagumkan, ternyata taktik dan siasat perjuangan gerilyawan Pattani didapatkan dari Indonesia. “Kami belajar taktik gerilya dari buku bapak Abdul Haris, seorang jendral Indonesia yang ternama,” ujar salah seorang pejuang BRN yang enggan disebutkan namanya. Maksudnya adalah Jendral AH Nasution, ahli perang gerilya dan penulis buku fenomenal, Strategy of Guerrilla Warfare.

Kelompok terkecil milisi terdiri dari lima orang yang disebut arkeke. Salah satunya menjadi ketua kelompok. Tiap komandan arkeke ini hanya kenal dengan komandan arkeke lain, tidak dengan anggotanya. Koordinasi hanya dilakukan lewat ketua saja. Pun, tiap ketua kelompok terkecil ini juga merupakan sebuah kelompok dari kelompok di atasnya. Mereka juga terdiri dari beberapa orang dan dikomandani oleh seorang ketua. Demikian seterusnya hingga puncuk pimpinan. Dengan sistem sel yang rapi dan terkoordinir ini, membuat gerak dan langkah perjuangan jarang bocor.

Masyarakat pun tak tahu siapa-siapa yang menjadi anggota maupun simpatisan pejuang. Padahal para pejuang ini hidup membaur dengan masyarakat. Mereka adalah warga kota dan kampung-kampung yang bekerja dan mencari nafkah sebagaimana layaknya anggota masyarakat lain. Ada yang bekerja sebagai petani, nelayan maupun pegawai pemerintah dan swasta. Kadang seorang pejuang tidak mengetahui kalau tetangga sebelah rumahnya adalah pejuang juga, yang terdaftar pada kelompok lain. Demikian pula sebaliknya.

Dalam struktur BRN terdapat beberapa divisi yang mempunyai tugas dan fungsi masing-masing, diantaranya divisi militer, politik, dan ekonomi. Divisi militer tugasnya adalah latihan perang dan melakukan serangan atau gerilya. Divisi politik bertugas memobilisasi massa, melakukan pemberdayaan, dan diplomasi. Sedangkan divisi ekonomi berkonsentrasi dalam hal pencarian dana untuk menunjang gerak dan langkah perjuangan. Pun demikian, tiap anggota antar divisi ini tak mengenal satu sama lain, kecuali di tingkat pimpinan tertentu saja.

Sebagai pasukan gerilya yang bergerak underground, awalnya para pejuang ini bermarkas di hutan-hutan yang terdapat di berbagai wilayah selatan. Namun, setelah tentara kerajaan Thailand melakukan serangan besar-besaran dengan menggunakan senjata dan peralatan tempur yang lebih modern, para pejuang akhirnya berpindah-pindah tempat. Kini, mereka tidak hanya bergerilya di bukit-bukit, tapi juga mulai masuk kota dan perkampungan. Melakukan serangan-serangan sporadis, meledakkan bom, melakukan penembakan, lalu menghilang.

Para pejuang ini tak kenal menyerah dan pantang mundur dari medan laga. Targetnya, merdeka atau mati syahid. “Tak ada istilah kalah dalam perjuangan Islam. Kalau menang kita berjaya, kalau mati kita syahid,” kata seorang gerilyawan di Pattani. Pejuang yang pernah berjihad di Afghanistan bersama Imam Samudera ini, menyebutkan adanya keterkaitan antara pejuang Pattani dan mujahidin Indonesia.

Hal ini memang sempat disinggung oleh Imam Samudera ketika bertemu Sabili di Lapas Batu Nusakambangan beberapa hari menjelang Ramadhan 1429H lalu. Imam bahkan memberikan beberapa kontak di Pattani. “Mereka adalah mujahidin alumni Afghanistan. Kalau antum (Anda) bertemu mereka, sampaikan salam saya,” pesan Imam. Sayang, keterbatasan waktu dan kondisi yang tak memungkinkan kontak-kontak tersebut tak sempat ditemukan.

Namun, laskar Islam itu berjanji akan mengantarkan Sabili bertemu nama-nama yang disebutkan Imam jika berkunjung lagi ke Pattani. “Kami belum bisa membawa Anda ke markas sebelum kami yakin betul Anda adalah orang yang diamanahi akhi (saudara) Imam,” kata pemuda yang sehari-hari mencari nafkah dengan menyadap karet ini.

Bertemu dengan para pejuang Pattani memang tidak mudah, walau mereka tersebar di tiap kampung dan kota. Selain melalui jalur dan kontak yang rumit, kita harus bisa mendapatkan kepercayaan mereka dan punya penjamin orang lokal. Maksudnya, harus ada tokoh agama atau tokoh masyarakat setempat yang kita kenal dan bisa menjamin bahwa kita adalah orang yang bisa dipercaya. Walau sebenarnya, beberapa orang yang sempat ditemui adalah para pejuang, namun mereka tidak mengaku dan enggan membuka diri. “Mereka memang tidak mudah ditemui, apalagi terhadap orang asing yang baru dikenal,” kata Abdul, warga Pattani yang mengaku simpatisan pejuang.

Sayang, di tengah menggebunya semangat membebaskan diri dari belenggu penjajahan, masih ada saja sebagian warga Pattani yang berkhianat. Mereka rela menjadi mata-mata kerajaan demi lembaran-lembaran baht (mata uang Thailand). Pihak kerajaan memberi mereka uang sebesar 4000-5000 baht untuk mencari informasi tentang gerilyawan. Kebanyakan mereka adalah orang-orang tak punya, yang memang sengaja dijadikan SB (special brain) atau mata-mata. Selain orang-orang tak mampu, banyak juga para pejabat Muslim yang ikutan-ikutan menjadi SB. Tak heran, jika orang-orang seperti ini kerap menjadi sasaran penembakan para gerilyawan.

Berharap dukungan

Kendala yang dialami para pejuang Pattani dalam melakukan perlawanan adalah tidak adanya dukungan dari negara-negara Islam lainnya, termasuk Malaysia dan Indonesia. Berbeda dengan GAM (Gerakan Aceh Merdeka) di Indonesia, yang banyak menuai simpati dari luar kala mengangkat senjata dulu. Para pejuang Pattani ini miskin bantuan, baik dalam hal dana maupun persenjataan. Senjata yang mereka pakai kebanyakan hasil rampasan dari militer Thailand. Hal ini sangat disayangkan oleh kaum muslimin di sana.

Menurut Abdur Rahman, hanya ada satu negara yang menyokong perjuangan Muslim-Pattani, yaitu Syria. “Mereka banyak memberikan bantuan dana, perlindungan, suaka politik, dan lainnya. Dulu ada Libya dan Iran, namun sekarang sudah hilang. Bahkan Organisasi Konferensi Islam (OKI) pun tak bisa bersuara dalam menyelesaikan masalah Pattani ini,” kata tokoh agama yang juga mantan anggota National Reconciliation Commission (NRC) Komisi Rekonsiliasi Nasional. Sebuah komisi yang dibentuk pemerintah Thailand dengan tujuan menyelesaikan konflik namun tanpa hasil, karena pemerintah tidak pernah mau melaksanakan butir-butir rekomendasi yang dihasilkan NRC.

Tuan Guru Haji Ismail Hari, Kadi Syar’i Majelis Agama Islam Yala, mewakili seluruh kaum muslimin di Pattani berharap umat Islam di Indonesia mau memberikan perhatian dan dukungan terhadap permasalahan yang dihadapi umat Islam di Thailand Selatan. “Karena bagaimanapun, bagi umat Islam di sini, Indonesia itu adalah sebagai bapak dan Malaysia itu sebagai kakak. Kita di sini tidak ada tempat meminta tolong dan perlindungan. Kalau bukan saudara-saudara di Indonesia dan Malaysia, kepada siapa lagi? Paling tidak, bantulah kami dengan doa,” katanya lirih.

Sebagai umat Islam terbesar di dunia, yang dianggap bapak oleh saudara sesama Muslim yang tengah tertindas di Thailand Selatan, hendaknya kita tergugah memberikan bantuan. Apa pun bentuknya, sekuat dan semampu kita. Kalau tak ada jua, cukuplah dengan doa. Sebuah pinta yang sangat sederhana. Masihkah kita enggan memberi dan berbagi?

Daftar Pustaka:

Sumber gambar:

Kamis, Februari 05, 2009

Penaklukan Umayyah di Hispania

Penaklukan Umayyah di Hispania (711–718) dimulai saat pasukan Kekhalifahan Umayyah, sebagian besar terdiri dari Muslim Berber dari Afrika Barat Laut menyerang Hispania (sekarang Iberia; Portugal dan Spanyol) yang dikuasai oleh Kristen Visigoth pada tahun 711.

Penaklukan ini terjadi saat masa pemerintahan Khalifah Al-Walid I di Damaskus, dan dipimpin oleh Jenderal Tariq bin Ziyad (s/d 720). Pasukan Umayyah mendarat di Gibraltar pada 30 April 711, dan lalu bergerak ke arah utara. Satu tahun berikutnya, atasan Tariq, Musa bin Nusair bergabung dengan pasukannya.

Kampanye militer ini berjalan sekitar 8 tahun, dan hasilnya sebagian besar Semenanjung Iberia berhasil dikuasai umat Islam kecuali daerah-daerah kecil di sebelah barat daya (Galicia dan Asturias) serta daerah-daerah Basque di daerah Pirenia. Daerah-daerah taklukan ini kemudian disebut Al-Andalus, dan menjadi bagian dari kekhalifahan Umayyah yang terus berkembang.

Kronologi

Abad ke-6 - Bangsawan-bangsawan Visigoth berkembang menjadi tuan-tuan tanah.

710 - Tarif bin Malik memimpin 400 orang bersama 100 kuda mendarat dan melakukan ekspedisi di ujung selatan benua Eropa di Iberia yang kini disebut Tarifa, diambil dari namanya.

711 - Musa bin Nusair, Wali (Gubernur) Ifriqiya (Afrika Utara), mengirim pasukan pimpinan Tariq bin Ziyad ke Iberia, menyusul kesuksesan ekspedisi Tarif dan adanya permasalahan pada Dinasti Visigoth di Hispania.

19 Juli 711 - Pasukan Tariq bin Ziyad, dibantu oleh Julian, Count Ceuta mengalahkan pasukan Raja Visigoth Roderic, dekat Sungai Guadalete.

Juni 712 - Orang-orang Syria datang ke Hispania, dan menyerang kota-kota serta benteng-benteng yang tidak didekati Tariq bin Ziyad

Februari 715 - Musa bin Nusair, memasuki Damaskus bersama tawanannya, raja-raja dan bangsawan Visigoth, bersama ribuan tawanan lainnya, untuk memberikan penghormatan kepada khalifah Islam di Damaskus.

Sekitar 715-716 - Musa bin Nusair meninggal di Hijaz saat sedang melakukan ibadah Haji. Anaknya Abdul Aziz bin Musa ditunjuk sebagai Gubernur Al-Andalus, dengan ibukota Sevilla. Abdul Malik juga menikahi janda Roderic, Egilona dari Dinasti Balti.

717-718 - Wali (Gubernur) Al-Hurr bin Abdurrahman Ats-Tsaqafi menyeberangi Pirenia, dan memimpin serangan ke Septimania. Sebagian besar dari serangan ini mengalami kegagalan.

719 - Gubernur As-Samh bin Malik Al-Khaulani, memindahkan ibukota Al-Andalus dari Sevilla ke Kordoba.

Musim semi 732 - Wali Abdurrahman bin Abdullah Al-Ghafiqi bergerak melalui Pirenia barat, menyeberanginya, dan mengalahkan Adipati Odo dari Aquitaine di tepi sungai Garonne.

Oktober 732 - Pertempuran Tours (Balat Al Shuhada`). Abdurrahman Al-Ghafiqi, berhadapan dengan Charles Martel. Martel memenangkan pertempuran ini, menghentikan gelombang penaklukan Umayyah di Eropa. Abdurrahman sendiri gugur dalam pertempuran ini.

734-742 - Kerusuhan antara etnis-etnis di Al-Andalus.

755 - Bangsawan Umayyah Abdurrahman I, melarikan diri dari Damaskus, menyusul jatuhnya pemerintahan Umayyah ke tangan Bani Abbasiyah. Pada akhir 755 ia mendarat di Granada, Al-Andalus

756 - Abdurrahman I mengalahkan Wali Al-Andalus Yusuf Al-Fihri pada pertempuran Musarah di luar kota Kordoba. Ia lalu menunjuk dirinya sebagai Amir Al-Andalus dan digelari Ad-Dakhil (yang Masuk).


Pertempuran Guadalete (Tanggal 19 Juli 711)

Pertempuran Guadalete terjadi pada tanggal 19 Juli 711, di sekitar sungai Guadalete yang terletak paling selatan dari wilayah Al-Andalus dimana pasukan muslim pimpinan Tariq bin Ziyad berhasil mengalahkan pasukan Visigothic pimpinan Raja Roderic. Kemenangan ini dianggap sangat penting sebagai pembuka jalan bagi pasukan muslim menaklukan seluruh wilayah Andalusia dikemudian hari sehingga menjadi bagian dari wilayah muslim selama hampir 8 abad sampai dengan kejatuhannya pada tahun 1492.


Daftar Pustaka:
Sumber Gambar: